Banten Disebut Belum Siap Jadi Tujuan Utama Investasi

oleh -
investasi banten
Gubernur Banten, Wahidin Halim.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Letak geografis Provinsi Banten sangat potensial bagi para investor. Pelabuhan, pantai, bandara dan dekat dengan ibu kota menjadikan Banten tujuan utama investasi secara nasional.

Namun kelebihan itu belum bisa dibarengi dengan kesiapan daerah dalam menyambut para investor. Jaminan keamanan, harga tanah yang tinggi serta upah tenaga kerja yang tinggi menjadi kendala belum maksimalnya investasi di Banten.

Terhitung pada tahun 2019-2020 nilai investasi yang akan masuk ke Banten sebesar Rp36 triliun. Namun hingga kini jumlah tersebut belum bisa diserap sepenuhnya oleh Pemprov Banten lantaran berbagai faktor yang menghambat investasi di Banten.

“Padahal perizinan industri kami permudah menjadi 14 hari. Semua satu pintu lewat DPMPTSP. Tapi belum bisa menyerap  investasi secara maksimal,” kata Gubernur Banten Wahidin Halim (WH) di Pendopo, kawasan KP3B, Curug, Kota Serang, Senin (18/11/2019).

BACA JUGA:

. Ribuan Pekerja Industri di Banten Terancam PHK Massal

. Tekan Angka Pengangguran, Masyarakat Banten Diminta Bikin Usaha Mandiri

. Penyertaan Modal Bank Banten Masih Dikaji

Pasca kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2019 yang disepakati antara dewan pengupahan dengan Assosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sebesar 8,1 persen, sejumlah industri yang ada di Banten dikabarkan akan hengkang dan migrasi ke daerah lain yang lebih ramah investasi.

“Kami sudah sepakati kenaikannya. Sudah saya tandatangani juga. Adapun untuk besarnya nanti dihitung lagi,” katanya.

WH menilai, rencana hengkangnya 25 industri yang ada di Banten itu merupakan sebuah kewajaran, ketika ongkos produksi mereka naik, biaya ekspor juga naik, ditambah upah buruh juga mengalami kenaikan pula. Kenaikan ini tidak bisa kami pungkiri karena ini merupakan kebijakan pusat yang harus diterapkan seluruh Pemda.

“Intinya banyak industri yang gak sanggup dengan beban yang banyak, ditambah upah buruh yang juga mengalami kenaikan. Industri yang terkena dampak langsung itu seperti industri kaos kaki, padat modal dan tekstil,” ujarnya.

Di Provinsi Banten sendiri terdapat sekitar 15.945 industri yang beroperasi dan terdaftar. Dari jumlah tersebut, menurut WH, setiap tahunnya pasti ada yang pindah ke daerah lain. Terlepas itu masalah kontraknya yang sudah habis atau permasalahan upah buruh yang tinggi.

Untuk mengantisipasi itu, WH berharap hubungan harmonis antara buruh dan pelaku industri dapat terjalin, sehingga diantara mereka ada keterbukaan informasi yang tidak melulu melibatkan pemerintah daerah setempat.

“Kalau bisa jangan melulu ke pemerintah,” tutupnya. (Luthfi/Difa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.