Bamsoet: Pasca Pandemi Desa Tumpuan Utama Ketersediaan Pangan

  • Whatsapp
Bamsoet Terima Kunjungan BKNDI

JAKARTA, REDAKSI24.COM– Ketua MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyatakan,  masa depan Indonesia pasca pandemi Covid-19 bukan berada di pusat bisnis perkotaan, melainkan  di desa karena menjadi tumpuan utama penyedia kebutuhan pangan.

Bamsoet mengutarakan hal itu  saat menerima Badan Komunikasi Nasional Desa se-Indonesia (BKNDI) yang dihadiri Dewan Penasehat BKNDI, Mayjend TNI (Purn) Suprapto, Ketua Umum, Isra Sanaky, Bendahara Umum, Novita Tuahuns, dan Ketua Koperasi Konsumen BKNDI, Mandiri Darwis, di Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Rabu.

Bacaan Lainnya

Bamsoet mengatakan, pandemi Covid-19 membuka mata semua pemangku kebijakan, mulai pemimpin daerah hingga pusat. Mereka menyadari bahwa kedaulatan terhadap pangan harus diutamakan, tak bisa lagi Indonesia bergantung kepada impor pangan.

“Indonesia dianugerahi tanah yang subur untuk pertanian, laut yang luas untuk perikanan, maupun udara segar untuk perkebunan, maka bukan hal sulit untuk mencakupi kebutuhan pangan kepada 267 juta penduduk. Tidak ada yang tak bisa ditanam disini, tinggal bagaimana kita mengelolanya secara bijak. Oleh karena itu, gagasan Presiden Joko Widodo merealisasikan food estate dengan membuka lahan pertanian seluas 165.000 hektar di Kalimantan Tengah patut mendapatkan dukungan,” ujarnya.

Bamsoet lantas menyodorkan data berdasarkan Laporan The Global Hunger Index (2019). Dari laporan itu terungkap Indonesia menempati peringkat 130 dari 197 negara dengan tingkat ancaman kelaparan serius. Diperkirakan 8,3 persen populasi tak mendapat gizi cukup, serta 32,7 persen anak balita mengalami stunting.

“Apabila pada masa normal kondisi pangan bisa sesulit itu, bagaimana di kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini. Badan Pangan Dunia (FAO) sudah memberikan peringatan adanya krisis pangan dunia akibat terganggunya jalur supply karena pandemi Covid-19. Kejadian tersebut menjadi cambuk bagi Indonesia untuk serius membenahi sektor pangan. Pembangunan desa harus digenjot sehingga para pemuda tak lagi melakukan urbanisasi. Pemuda harus bangga menjadi petani,” tutur mantan Ketua DPR RI ini.

Dijelaskan, dengan luas lahan mencapai 570.000 km persegi,  sektor pertanian belum mampu mempersembahkan yang terbaik. Salah satunya karena impor yang merajalela. Sejak tahun 1960 hingga saat ini, Indonesia masih mengimpor beras, kemudian sejak 1989 Indonesia juga mengimpor jagung.

Kemajuan sektor pertanian juga akan berdampak luas terhadap penerimaan devisa negara, serta mampu membuka banyak lapangan pekerjaan, yang pada akhirnya akan menanggulangi kemiskinan. “Pandemi Covid-19 telah membawa pelajaran besar agar kita tak lagi meninggalkan sektor pangan,” pungkas Bamsoet. (Agung/Jaya)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.