Baduy Tetap Membuka Diri Dikunjungi Para Wisatawan

  • Whatsapp
Jaro Saija

KABUPATEN LEBAK, REDAKSI24.COM – Wilayah Suku Adat Baduy tetap akan menerima para wisatawan yang hendak berkunjung dan melihat secara langsung Budaya Suku Adat Baduy. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Jaro Pamarentah atau Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija. Kata Jaro, wisatawan yang hendak mengunjungi Baduy harus  taat pada aturan adat di Baduy dan menjaga kelestarian alam dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Bacaan Lainnya

“Tetap akan dibuka, namun harus taat aturan adat. Dan di tengah pandemi Covid-19 ini, wisatawan juga harus membawa surat kesehatan,” kata Jaro Saija ketika dihubungi Redaksi24.com melalui telepon selulernya, Sabtu (11/7/2020).

Ia mengungkapkan, pihaknya juga telah menggelar  Musyawarah dengan para tetua adat lainnya  di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, pada Jumat (10/7/2020) kemarin. Dalam musyawarah tersebut para tetua adat membuat pernyataan bahwa mereka tidak pernah memberikan mandat kepada siapapun, termasuk Heru Nugroho yang mengirimkan surat kepada pemerintah atau Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) untuk menghapuskan Baduy dari peta destinasi wisata, dan Suku Adat Baduy akan tetap membuka daerahnya untuk wisatawan.

BACA JUGA: Mampu Melestarikan Aturan Adat, Ketua Pengadilan Tinggi Banten Kagumi Suku Baduy

“Kami dari lembaga Suku Adat Baduy tidak pernah memberikan mandat kepada siapapun terkait hal tersebut,” kata Jaro Pamarentah atau Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija.

Saija menegaskan, Baduy sendiri tidak memiliki lembaga adat ataupun perwakilan di luar kawasan Suku Adat baduy. “Untuk surat yang dibubuhi  cap jempol oleh Jaro Tangungan 12 Saidi Putra, Jaro Warega Jaro Madali, Jaro Dangka Cipantik Jaro aja tidak benar isinya, dan para Jaro juga tidak mengetahui isi dari surat tersebut,” tegasnya.

Pernyataan Para Tetua Adat Baduy mendapatkan respon dari Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya. Bupati melalui akun media sosial instagramnya @viajayabaya mengatakan, hubungan Masyarakat Adat Baduy dengan Pemerintah Kabupaten Lebak sangat baik dan harmonis. 

Menurutnya, pengembangan Pariwisata yang dipromosikan oleh Pemkab Lebak, berlaku untuk seluruh destinasi wisata di daerah tersebut, termasuk wilayah adat Baduy. Namun katanya, pengembangan pariwisata itu harus tetap memperhatikan kearifan lokal dan aturan adat.

” Benar Pemerintah Kabupaten Lebak tengah menggalakkan sektor pariwisata, termasuk Suku Adat Baduy di dalamnya. Namun demikian, Pariwisata yang tengah kami tata, sama sekali tidak dalam tujuan akan mengeksploitasi habis Suku Baduy. Destinasi Wisata Suku Adat Baduy merupakan Destinasi Wisata Budaya, dimana pendekatan yang kami lakukan akan melibatkan masyarakat Baduy sebagai subjek dari kebijakan kepariwisataan,” tulis Bupati Lebak dalam akun media sosial pribadinya.

BACA JUGA: Pangdam Siliwangi Jamin Warga Baduy Masuk TNI-Polri

Dan mengenai perihal sampah di Baduy yang tersirat dalam surat tersebut, katanya, hal tersebut akan menjadi fokus perhatian dan evaluasi Pemkab Lebak. Menurutnya, Wewengkon Masyarakat Adat Baduy harus dilestarikan, karena Baduy merupakan role model living yang tidak lagi banyak tersisa di dunia dan menjadi contoh bagi masyarakat dunia dalam hubungan antar masyarakat, termasuk harmoni hubungan manusia dalam memperlakukan alam sebagai bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan.

” Baduy milik Lebak, milik Banten, milik Masyarakat Sunda, milik Indonesia, bahkan milik Masyarakat Dunia. Kelestarian Budaya Adat Baduy merupakan sebuah keniscayaan yang bukan saja harus kita pertahankan, bahkan harus perjuangkan dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dan hanya menjadikan Baduy sebagai komoditas atau bahan jualan kepentingan sesaat,” pungkasnya. (Yusuf/Aan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.