‘Badai’ Hantam Demokrat, Senior Partai Sebut DPP Tidak Memperhatikan Aspirasi Daerah

badai, demokrat, senior, aspirasi daerah, tidak, memperkatikan, pengambilalihan, paksa, pimpinan, AHY, moeldoko, kepala, staf, kepersidenan, pilkada, kepala daerah
Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (Antara)

JAKARTA, REDAKSI24.COM–Partai Demokrat tengah dihantam ‘badai’, kisruh internal dipicu pernyataan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menyatakan ada gerakan mengobok-obok partainya, dengan jalan pengambilalihan paksa pimpinan partai.

Para senior dan pendiri Partai Demokrat pun buka suara, mereka menyebut-nyebut kepemimpinan AHY tidak memperhatikan aspirasi daerah khususnya kabupaten/kota.

Bacaan Lainnya

“Seperti proses penentuan pasangan calon kepala daerah di provinsi, kabupaten/kota yang diusulkan Demokrat pada era Ketua Umum sebelumnya, diserahkan penuh kepada pengurus DPD dan DPC. Namun saat ini sepenuhnya ditarik ke DPP dan tidak memperhatikan usulan atau aspirasi daerah khususnya kabupaten/kota,” ungkap Ahmad Yahya, saat membacakan sikap pendiri dan senior Partai Demokrat dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/2/2021).

Dia menilai langkah tersebut sebelumnya tidak pernah terjadi di era Ketua Umum Partai Demokrat sebelumnya yaitu Budi Santoso, alm Hadi Utomo, dan Anas Urbaningrum.

Imbuh dia, harapan kader Demokrat secara umum menginginkan adanya perubahan lebih baik ke depan dan partai tersebut kembali menjadi partai besar serta kesan negatif sebagai parpol ekslusif dan milik keluarga harus dihilangkan.

Menurut dia, harapan kader Demokrat secara khusus adalah tantangan meningkatnya ambang batas parlemen menjadi 7 persen namun faktanya perolehan suara partai tersebut dalam dua kali Pemilu terakhir terus menurun.

“Fakta lain adalah hasil Pilkada banyak yang gagal sehingga kader Demokrat di daerah berharap dapat dipimpin figur yang sudah matang, memiliki ekstra kemampuan kepemimpinan, pengalaman dan ketokohan untuk mengembalikan kejayaan Demokrat seperti di tahun 2009,” ujarnya.

Tak sampai di situ, pernyataan AHY juga menyasar istana. Kata AHY, gerakan dan manuver politik untuk menggulingkan dirinya dilakukan oleh segelintir kader dan mantan kader Demokrat, serta melibatkan pihak luar atau eksternal partai, yang dilakukan secara sistematis.

“Sedangkan yang non-kader partai adalah seorang pejabat tinggi pemerintahan, yang sekali lagi, sedang kami mintakan konfirmasi dan klarifikasi kepada Presiden Joko Widodo,” kata dia.

Pernyataan AHY itu, langsung ditanggapi Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Mantan Panglima TNI yang juga senior AHY itu mengatakan,  bahwa beberapa kali banyak tamu yang berdatangan ke kediamannya, dan Moeldoko terbuka kepada siapa pun yang ingin bertemu, tanpa memberikan batas.

“Poin pertama, jangan dikit-dikit Istana. Dalam hal ini saya mengingatkan. Sekali lagi jangan dikit-dikit Istana dan jangan ganggu pak Jokowi, karena beliau dalam hal ini tidak tahu sama sekali, tidak tahu apa-apa dalam isu ini. Jadi itu urusan saya. Moeldoko ini, bukan selaku KSP. Moeldoko,” ujar Moeldoko.

Moeldoko tidak menyebutkan siapa yang datang ke kediamannya. Namun ditengarai pihak yang sempat datang menemuinya merupakan orang-orang yang disebut AHY sebagai pelaku gerakan pengambilalihan paksa kepemimpinan Demokrat.

“Saran saya. Menjadi seorang pemimpin harus kuat, jangan mudah ‘baperan’, mudah terombang-ambing dan seterusnya. Kalau anak buahnya nggak boleh pergi kemana-mana ya diborgol aja kali ya. Begitu. Selanjutnya kalau ada istilah kudeta, kudeta itu dari dalam, masa kudeta dari luar,” kata Moeldoko. (Imam Budilaksono/Ant/ejp)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.