Antisipasi penyebaran Covid-19, HMI Minta Kemenhub Stop Operasional KRL Rangkasbitung

  • Whatsapp
Operasional KRL Rangkasbitung
Ilustrasi Penyebaran covid-19 di KRL

LEBAK, REDAKSI24.COM – Pasca ditetapkannya Lebak sebagai zona kuning  penyebaran  virus corona (Covid-19) dengan ditemukannya satu kasus positif, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Lebak meminta Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) agar serius dalam menangani kasus tersebut dengan menghentikan operasional moda transportasi kereta Rel Listrik (KRL).

Kepala Bidang Eksternal HMI Lebak, Habib mengatakan, Pemkab  juga harus mengambil langkah  tegas dengan menyetop operasional  moda transportasi  umum Kereta Rel Listrik (KRL).  Hal tersebut  harus dilakukan  karena menurutnya,  moda transportasi  tersebut  telah banyak disalahgunakan  oleh masyarakat  yang berasal dari zona merah  Covid-19 seperti  Tangerang dan Jakarta untuk melakukan  mudik ke Wilayah Kabupaten  Lebak. 

Bacaan Lainnya

“Kami mengapresiasi Pemerintah yang telah mengeluarkan kebijakan larangan mudik dalam upaya menekan angka penyebaran Covid -19. Namun kebijakan tersebut  harus diiringi dengan langkah kongkret,  jangan hanya membatasi akses darat di titik perbatasan daerah saja,  namun harus juga membatasi akses transportasi umum seperti KRL. Karena masih banyak ditemui warga yang dengan bebas mudik menggunakan moda transportasi  umum ini, ” kata Habib, Minggu (24/5/2020).

Penyebaran virus tersebut kata dia, sangat mudah mewabah dari satu individu ke individu lainnya,  dan para pemudik yang berasal dari zona merah memiliki potensi besar terinfeksi virus tersebut,  bisa saja mereka secara tidak sengaja menyebarkan virus itu saat dalam perjalanan.

Dikatakannya,  berdasarkan data dari PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) penumpang yang turun dan naik di Stasiun Rangkasbitung sejak 12 – 21 Mei 2020 mencapai 21.239 orang, dengan perkiraan jumlah penumpang perharinya menembus angka 2.000 orang. 

Angka tersebut merupakan jumlah yang besar ditengah Pandemi yang telah menginfeksi lebih 21,745 orang di Indonesia ini.  Ia mengingatkan,  hasil rapid test yang telah dilakukan oleh pihak Dinas Kesehatan (Dinkes)  Lebak di stasiun Rangkasbitung,  yang menemukan adanya pemudik yang reaktif Covid-19. 

“Dari ribuan orang yang turun di Stasiun Rangkasbitung, hanya ratusan orang saja yang menjalani tes,  salah satu orang yang menjalani tes tersebut  terindikasi reaktif,  nah lalu bagaimana jika ada pasien positif diantara ribuan orang tersebut dan lolos dari tes  itu?,  Tentunya ini akan menjadi bom waktu bagi kita, ” ujarnya. 

Ia menegaskan,  sudah seharusnya Pemerintah menutup akses KRL,  karena itu merupakan salah satu kebijakan yang sangat strategis untuk mengurangi potensi penularan Covid-19. 

“Mungkin virus ini tidak akan pernah hilang,  namun malah manusia yang menjadi semakin canggih.  Namun,  diperlukan pengorbanan yang cukup besar untuk mencapai hal tersebut.  Maka dibutuhkannya langkah kongkret dalam upaya penekanan penyebaran virus ini,  salah satunya dengan menghentikan operasional KRL yang menjadi sarana penyebaran Covid-19,” pungkasnya. (Yusuf/Aan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.