Angka Putus Sekolah di Kabupaten Tangerang Tinggi, Pejabat Dindik Salahkan Pandemi

oleh -
Angka Putus Sekolah di Kabupaten Tangerang Tinggi, Pejabat Dindik Salahkan Pandemi
Tingginya angka putus sekolah tingkat SMA sederajat disebabkan minat kerja yang tinggi pada usia dini.

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM – Sejumlah pejabat dinas pendidikan (Dindik) menyebut faktor ekonomi akibat dampak pandemi COVID-19 hingga pergaulan bebas menjadi pemicu tingginya angka anak putus sekolah di Kabupaten Tangerang, Banten yang mencapai puluhan ribu orang.

Selain pergaulan bebas, Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Provinsi Banten Kabupaten Tangerang, Mohamad Bayuni menyebut, tingginya angka putus sekolah tingkat SMA sederajat disebabkan minat kerja yang tinggi pada usia dini.

Menurut Bayuni, minat kerja para pelajar SMA diawali rasa kejenuhan saat masa pandemi COVID-19. Dimana kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring. Sehingga, banyak siswa-siswi mengisi waktu luangnya untuk bekerja.

“Jadi mereka ini mencari peluang kerja untuk isi waktu luang, akhirnya mereka ketagihan karena bisa menghasilkan uang buat mereka,” kata Bayuni kepada Redaksi24.com, Rabu (3/8/2022).

BACA JUGA: Miris, Anak Putus Sekolah di Kabupaten Tangerang Tertinggi se-Banten

Selain itu, kata Bayuni, keputusan para pelajar lebih memilih bekerja juga disebabkan dari kondisi ekonomian orang tuanya yang mengalami penurunan akibat dampak pandemi. Seperti terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau lainnya.

“Dampak kepada pelajar ini cukup besar selama pandemi, khususnya terkait perekonomian orang tua,” jelasnya.

Bayuni tidak memungkiri angka putus sekolah di Kabupaten Tangerang juga banyak disebabkan faktor kenakalan remaja, khususnya pelajar tingkat SMA, seperti tawuran dan pergaulan bebas.

“Kalau secara data saya tidak pegang, tapi dengar beberapa informasi akibat kenakalan remaja, seperti kejadian tawuran dan kenakalan lainnya,” ujarnya.

Senada diungkapkan Sekretaris Dinas (Sekdis) Pendidikan Kabupaten Tangerang, Fahrudin. Dia tidak memungkiri siswa berhenti atau putus sekolah karena faktor ekonomi. Kondisi itu, kata dia, paling banyak terjadi di utara Kabupaten Tangerang.

Pihaknya siap memfasilitasi bila ada anak yang mengalami putus sekolah akibat kekurangan biaya untuk dapat melanjutkan sekolah.

“Tapi memang ada yang berhenti karena mereka memilih kerja dibanding sekolah. Khususnya di bagian utara,” tandasnya.(Deri/Difa)