Anggota Komisi VI DPR RI, Ananta Wahana Persoalkan BUMN Kalah Saing dengan Rentenir di Saat Pandemi Covid-19

oleh -
Anggota Komisi VI DPR RII, Ananta Wahana.

PONTIANAK,REDAKSI24.COM–Anggota Komisi VI DPR RI, Ananta Wahana mempersoalkan mengapa BUMN di tengah pandemi Covid-19 saat ini seperti kalah bersaing dengan rentenir. Ananta menyebutkan jika praktik rentenir kembali marak di tengah masyarakat saat pandemi, antara lain karena masyarakat sulit mencari pinjaman dana dari lembaga-lembaga keuangan konvensional termasuk BUMN yang bergerak dalam dunia perbankkan.

“Sulitnya mendapat akses permodalan membuat masyarakat terpaksa menggunakan jasa para rentenir. Terlebih disaat krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19, membuat praktik pemburu rente menjadi semakin marak” ujar Anata saat sesi pendalaman dalam acara Kunjungan Kerja Spesifik ke mitra-mitra kerjanya di seluruh Indonesia di Pontianak beberapa waktu lalu. 

Untuk itu politisi PDI Perjuangan ini mengingatkan ke seluruh jajaran direksi BUMN bahwa di tahun 90-an, NGO atau LSM yang bergiat di pemberdayaan masyarakat berhasil mengikis praktik rentenir. Namun dengan kembali maraknya para rentenir maka seolah  BUMN kalah bersaing dengan para pemburu rente.

“Dulu ada yang namanya Bank Plecit, itu istilah untuk para rentenir pemburu rente di tahun 1980 hingga 1990-an di Solo. Itulah musuh LSM-LSM tahun 90-an, yang akhirnya berhasil dikikis. Lha kok sekarang malah muncul lagi di mana-mana” keluh Ananta.

Bahkan, anggota DPR dari Dapil 3 Banten ini menyebutkan, saat ini prakti pemburu rente ini diperparah dengan banyaknya koperasi yang bulunya koperasi tapi isinya musang rentenir. Ananta mengatakan, bahwa saat ini masyarakat akan melahap tawaran modal usaha dari mana saja, apalagi jika jalur jalur resmi berbelit belit prosedurnya. 

“Apa yang disebut BANPRES dan bantuan modal usaha juga pasti tidak akan digunakan untuk usaha, melainkan untuk memenuhi desakan kebutuhan sehari-hari” kata Ananta.

Menurut Ananta tingginya kebutuhan masyarakat untuk bisa mengakses permodalan adalah hal yang sangat  wajar mengingat saat ini angka pengangguran terbuka sudah melonjak akibat PHK di mana-mana. Belum lagi 40% lebih UMKM sudah dinyatakan berhenti berusaha alias mandek per November 2020 kalau menurut data survey ADB terkini. “BUMN Keuangan harus memikirkan bagaimana menghidupkan kembali UMKM dan memperluas akses pemerataan bantuan modal ke seluruh lapisan masyarakat,” tegas  Ananta.

Terkait soal rentenir, Direktur Utama PT Pegadaian, Kuswiyoto, membenarkan bahwa dengan maraknya keuangan online, praktik pinjaman rente memang kembali menjamur dengan persyaratan minimal. Untuk itu menurut  Kuswiyoto, BUMN siap menjadi corong terdepan untuk mengedukasi masyarakat, sekaligus mempermudah penyaluran dana bantuan usaha ke lapisan usaha rakyat yang paling bawah.

“Pemerintah sudah menganggarkan dan terus mempermudah serta memperluas target sasaran dana PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) untuk UMKM dan usaha Ultra Mikro, antara lain lewat pembiayaan UMi (ultra mikro) yang disalurkan melalui beberapa perusahaan BUMN,” jelasnya. (Hendra)