Anak TK Jangan Dilibatkan Belajar Jarak Jauh, Alasan Psikolog Begini!

  • Whatsapp
Psikolog Kak Seto menyarankan anak TK tidak dilibatkan dalam pembelajaran jarak jauh
Sejumlah anak sedang melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) menggunakan akses internet gratis di sebuah masjid di Kota Tangerang, banten, beberapa waktu lalu.

JAKARTA, REDAKSI24.COM— Psikolog anak Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto menyarankan sebaiknya anak-anak usia dini atau yang masih belajar pada tingkat taman kanak-kanak (TK) tidak dilibatkan dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Pasalnya, menurut Kak Seto, penyampaian pembelajaran yang kurang tepat justru bisa membuat anak-anak stress.

Bacaan Lainnya

Kata dia, pola pikir pertama yang harus diubah adalah mengganti istilah “belajar dari rumah” menjadi “belajar di rumah” bersama keluarga. Pola ini sebisa mungkin diterapkan pada anak-anak usia dini atau anak-anak TK.

“Saya menyarankan jangan belajar jarak jauh, kenapa enggak belajar jarak dekat bersama dengan ayah dan bunda di rumah. Ada anak TK dari jam 7 pagi sampai jam 12 siang menatap ke layar ponsel atau laptop, meraka pusing tujuh keliling, akhirnya stres dan marah-marah, akhirnya malah benci belajar,”ujar  Kak Seto dalam bincang-bincang virtual, Jumat (9/10).

BACA JUGA:Ini Dampak Negatif Belajar Via Daring  Menurut Psikolog dan Cara Mengatasinya

Kak Seto melanjutka, “Bukan belajar dari rumah, tapi belajar di rumah. Jadi materi pelajaran dari guru disampaikan ke orangtua dan orangtua yang menyampaikan kepada anak-anak dengan gaya masing-masing, yang penting kompetensinya.” ujar Kak Seto melanjutkan.

Disebutkan, ada lima inti penting dari kurikulum yaitu etika, estetika, ilmu pengetahuan, teknologi, nasionalisme dan kesehatan.

Kelima hal tersebut harus disampaikan dengan ramah, kreatif, dan penuh dengan rasa persahabatan kepada anak sehingga bisa mencapai hasil yang optimal.

BACA JUGA:Psikologis Pasien Covid-19 Harus Tetap Dijaga Agar Cepat Terselamatkan

“Anak usia dini diajak, ‘Ayo belajar’ nanti dia akan melawan tapi coba, ‘Ayo kita bermain’. Jadi bermain gembira karena dunia anak adalah bermain. Melalui bermain ya belajar, belajar etika soal sopan-santun, menghormati orang lain, bekerja sama,” jelasnya.

Pada poin ilmu pengetahuan dan teknologi diberikan kepada anak secara bertahap sesuai dengan perkembangan usianya. Kak Seto menambahkan, orangtua diharapkan tidak memaksakan anak untuk menguasai semua kurikulum pendidikan, terlebih pada anak TK.

“Yang paling utama adalah suasananya gembira, dunia anak adalah bermain dan gembira. Kalau semuanya atas nama kurikulum, semua serba harus bisa, nanti tidak sesuai dengan kejiwaannya,” pungkasnya.(Maria/ANTARA/JAYA)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.