Amin dan Kesih, Pasutri Kabupaten Serang yang Tinggal di Gubuk Bambu

  • Whatsapp
gubuk bambu
Amin di gubuk bambunya di Kampung Wedas Nenggang, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Banten.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Amin (35) dan Kesih (35) merupakan Pasangan Suami Istri (Pasutri) bersama anaknya Ahmad (2,5) adalah keluarga yang tinggal di gubuk bambu beratap terpal, di Kampung Wedas Nenggang, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Banten.

Amin bekerja sebagai buruh lepas, apapun dia kerjakan demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari, seperti kuli panggul di Pasar Petir dengan penghasilan paling tinggi Rp50.000 per hari.

Bacaan Lainnya

“Jualan daun singkong di pasar atau kuli panggul, kalau lagi sehat,” katanya kepada wartawan, Rabu (13/5/2020).

Semenjak mewabahnya virus corona atau covid-19, istri dan anaknya diungsikan ke rumah mertuanya, karena kesulitan mencari nafkah ditambah kakinya yang sakit sakitan. “Tadinya istri tinggal di sini, di gubuk, sekarang dititipkan ke rumah mertua karena gak ada beras,” imbuhnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Redaksi24.com, gubuk milik Amin bukan dibangun di atas tanahanya sendiri, namun milik sebuah perusahaan. Gubuknya tersebut berdekatan dengan empang, kebun dan pohon bamboo. Sehingga untuk keperluan mandi, mencuci dan lain-lain Amin ikut ke tempat pemandian umum di kampungnya.

Sementara itu, Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah mengungkapkan warga Petir tersebut sudah diberikan bantuan dan sebetulnya memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kabupaten Pandeglang.

Maka pihaknya mengaku mengupayakan peralihan KTP milik Amin agar mendapatkan bantuan dengan maksimal. “Kami sedang upayakan peralihan KTP Kabupaten Serang agar maksimal terbantu,” ungkapnya melalui akun facebook Hj Ratu Tatu Chasanah, SE, M,Ak.

Masih dalam postingan dalam akun medsosnya, Tatu mengakui banyak warfga yang terdampak covid-19, bahkan bukan mereka saja yang terdata sebagai keluarga miskin. “Bukan hanya mereka yang sudah terdata sebagai keluarga miskin. Tapi bertambah dari yang awalnya punya penghasilan menjadi tidak,” imbuhnya.

Ada juga yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK), karena informasinya, ada perusahaan yang kesulitan mendapatkan bahan baku dan pemasaran produk. “Kami apresiasi teman- teman media, yang turut menyampaikan fakta, ada sebagian yang belum tersentuh bantuan. Inilah fakta, bantuan yang ada memiliki keterbatasan,” jelasnya.

Menurut Tatu, pemerintah pusat dan daerah terus bergerak menurunkan bantuan. Dia mengajak seluruh masyarakat memupuk kebersamaan ditengah pandemic covid-19. “Yang mampu harus  turun membantu yang kurang beruntung,” tandasnya.(Adi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.