Aktivis Pembela HAM Sebut Penembakaan Dua Guru di Papua Tidak Manusiawi

oleh -
Papua, aktivis ham, penembakan, guru, theo hesegem, KKB,
Theo Hesegem (tengah) mengutuk keras penembakan dua guru di Papua.

JAYAPURA, REDAKSI24.COM – Sejumlah pihak mengecam peristiwa penembakan dua guru di Beoga Kabupaten Puncak, Papua beberapa waktu lalu. Mereka menyebut penembakan itu merupakan tindakan yang sangat keji dan tidak manusiawi.

Kecaman terhadap aksi penembakan itu salah satunya disampaikan Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (Pembela HAM Sedunia), Theo Hesegem yang mengutuk keras penembakan terhadap dua tenaga guru.

“Harus segera dibentuk tim gabungan melibatkan berbagai pihak melakukan investigasi terkait kasus penembakan dua tenaga guru itu. Saya sebagai pembela HAM sangat menyesal tindakan brutal yang diduga dilakukan KKB/TPNPB mengorbankan kedua nyawa guru, yang sama sekali tidak tahu masalah apa-apa? Apa untungnya menembak warga sipil yang tidak tahu masalah,” ungkap Theo Hesegem melalui keterangan tertulis kepada media di Jayapura, Minggu (11/4/2021) malam.

Theo mengatakan, guru sebagai warga negara juga punya hak hidup yang sama dengan warga lainnya. Sebagai warga negara, kata dia, mereka juga punya hak hidup di seluruh Indonesia termasuk di Tanah Papua.

“Mereka datang untuk membangun sumber daya manusia di Tanah Papua, kenapa mereka ditembak? Adanya guru maka kita bisa menjadi pintar dan menjadi orang-orang hebat di tanah ini untuk membangun Papua,” katanya.

BACA JUGA: Menkopolhukam, Tingkatkan Pengamanan Objek Vital Secara Nasional

Seharusnya, menurut Theo, guru diberikan kebebasan, sehingga bebas menjalani tugas dan tanggung jawab mereka sebagai guru, mereka harus bebas, dihargai dan dihormati semua orang termasuk KKB/TPNPB.

Kedatangan guru di sekolah Beoga untuk mengajar anak serta membangun sumber daya manusia dan pendidikan di Tanah Papua lebih khusus Kabupaten Puncak.

“Perlu ketahui tanpa guru pendidikan di Papua tidak bisa maju, oleh karena itu semua orang punya kewajiban untuk menjaga dan melindungi guru sekalipun mereka adalah masyarakat non Papua,” harapnya.

“Sehingga dengan begitu hubungan masyarakat asli Papua dan warga non Papua memiliki hubungan yang sangat harmonis dan membangun peradaban di Tanah Papua,” imbuhnya.

Theo menyebut, jika penembakan itu diduga dilakukan KKB/TPNPB adalah tindakan yang tidak terukur dan tindakan itu merugikan anak-anak sekolah karena tanpa guru sekolah tidak akan berjalan dengan baik.

“Semua murid akan menjadi bodoh karena tidak belajar dengan baik. Seharusnya guru-guru tidak perlu ditembak dan menurut saya, tindakan ini tidak manusiawi,” tegasnya.

Ia juga menilai jika benar penembakan ini dilakukan oleh KKB/TPNPB, maka aksi ini sangat mencederai perjuangan mereka yang selama ini berjuang untuk Papua merdeka di mata dunia internasional.

Sebagai pembela HAM, lanjut Theo, ia sangat menyesal tindakan yang dilakukan KKB/TPNPB sangat tidak profesional. Menurutnya seluruh tindakan ini harus dipertanggungjawabkan secara hukum sesuai undang-undang yang berlaku.

“Sebagai pembela HAM ia mengutuk keras aksi tersebut karena menurutnya tindakan tersebut sangat tidak menusiawi. Yang bisa mencabut nyawa manusia hanya Tuhan bukan manusia. Saya sangat menyesal atas kejadian penembakan terhadap kedua tenaga guru yang di Beoga, karena masa depan pendidikan anak-anak di Kabupaten Puncak Papua akan tertinggal jauh,” ungkapnya prihatin.

Theo meminta tenaga guru harus dan wajib dilindungi oleh semua orang, mereka (guru) tidak bisa diperlakukan seperti itu, karena guru-guru merupakan tenaga pendidik yang bertujuan mencerdaskan anak-anak Papua, yang nantinya membangun Puncak dan Papua pada umumnya.

BACA JUGA: Seluruh Venue di Mimika 100 Persen Siap Gelar PON XX Papua

Kasus penembakan dua guru di Beoga Kabupaten Puncak Oktovianus Rayo dan Yonatan Renden diduga kuat dilakukan gerombolan kelompok kriminal bersenjata pada Kamis 8 April dan Jumat 9 April 2021 menyebabkan keduanya tewas di tempat tugas.

Ia juga meminta agar para pelaku penembakan terhadap tenaga guru ini harus ditangkap dan diproses sesuai hukum, karena tindakan yang dilakukan adalah tindakan melanggar hukum.

“Kalau memang pelakunya adalah KKB mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Oleh karena itu Polda Papua harus mempersiapkan langkah-langkah hukum,” katanya.

Theo berharap, pemerintahan yang dipimpin Presiden Joko Widodo harus membuka diri dan mencari format-format baru, untuk menyelesaikan pertumpahan darah yang terjadi di Tanah Papua sehingga penembakan-penembakan yang terjadi selama ini dapat diakhiri.

Pemerintah, menurut Theo, harus membuka mata dan telinga, jangan menjadi bisu, dan tuli terhadap peristiwa-peristiwa di Tanah Papua, silahkan buka ruang dialog yang bermartabat dan berwibawa.

“Menurut saya atas tindakan pembunuhan terhadap ke dua guru di Beoga, perlu ada tim investigasi, yang dikendalikan Pemerintah Provinsi sehingga hasil investigasi yang dimaksud, hasilnya dibawa ke Jakarta agar supaya bisa ada upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah pusat,” imbuhnya.

Tim yang dimaksud menurut Theo dibentuk secara independen dan profesional, sehingga melibatkan pihak Gereja, LSM, Komnas HAM termasuk pemerhati HAM sehingga kerja juga dapat terukur dan profesional.(ANT/DIFA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.