Aksi Smackdown Polisi Terhadap Mahasiswa, Kapolresta Tangerang Sebut Diskresi yang Keliru

oleh -
Aksi Smackdown Polisi Terhadap Mahasiswa, Kapolresta Tangerang Sebut Diskresi yang Keliru HUT Kabupaten Tangerang ke 389 tahun
Kepada wartawan usai jumpa pers di Gedung Presisi Mapolresta Tangerang, Tigaraksa, Senin (18/10/2021), Wahyu menjelaskan, diskresi merupakan kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi yang dihadapi, termasuk bagi anggota kepolisian.

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM – Kapolresta Tangerang Kombes Pol Wahyu Sri Bintoro menyebut tindakan kekerasan terhadap mahasiswa yang menggelar aksi unjukrasa HUT Kebupaten Tangerang ke 389 tahun di depan Kantor Bupati Tangerang 13 Oktober 2021 lalu, merupakan bentuk diskresi keliru dari anggotanya.

“Pada insiden itu terjadi diskresi yang keliru,” ulang Wahyu Sri Bintoro kepada wartawan usai jumpa pers di Gedung Presisi Mapolresta Tangerang, Tigaraksa, Senin (18/10/2021).

Lebih jauh Wahyu menjelaskan, diskresi merupakan kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi yang dihadapi, termasuk bagi anggota kepolisian. Diskresi kepolisian, kata dia, wewenang yang diberikan kepada polisi untuk mengambil keputusan dalam situasi tertentu dengan pertimbangan sendiri dan menyangkut moral serta dalam batas antara hukum dan moral.

“Semua personel (polisi) mempunyai kewenangan diskresi. Berkaitan dengan saat situasional menggunakan diskresi itu. Nah pada insiden itu, terjadi diskresi yang salah penerapan,” jelasnya.

BACA JUGA: Kapolresta Tangerang Akan Tindak Tegas Anggotanya Yang Terbukti Melakukan Kekerasan 

Disinggung sanksi bagi anggotanya yang telah melakukan aksi smackdown terhadap mahasiswa, yakni Brigadir NP, Wahyu menuturkan sudah menjadi ranah Bidpropam Polda Banten. Kasusnya kini masih dalam proses.

“Kami limpahkan semua ke Polda Banten, proses pemeriksaannya juga sudah, tinggal menunggu hasil sidang saja,” jelas Wahyu.

Pun saat disinggung kemungkinan Brigadir NP akan dicopot dari institusi kepolisian, Wahyu menyatakan masih dalam proses.

“Kami sudah melakukan sprint dan telegram terhadap yang bersangkutan, sudah kami jadikan ke Bintara Polres, dalam proses pemeriksaan,” imbuh Wahyu.

Sementara itu, agar tidak lagi terjadi tindakan kekerasan atau tindakan represif anggota kepolisian, khususnya jajaran Polresta Tangerang terhadap massa pengunjukrasa, Wahyu mengatakan, pihaknya rutin menggelar berbagai program.

Wahyu merinci diantaranya Program Polisi Yasinan pagi hari (Pos siaga) yang rutin digelar setiap Senin. Kemudian pada hari Rabu ada Program Polisi Berlatih (Pos Polah) dan Kamis Program Polisi Pembinaan Rohani dan Mental (Polisi Binrotal).

“Jadi dengan semua program itu kami upayakan semua anggota bekerja amanah dan merasa diawasi Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Wahyu.

Selain itu, kata Wahyu, pada setiap Rabu, jajarannya juga rutin menggelar pelatihan, seperti latihan pengendalian massa (Dalmas) atau bagi jajaran Reskrim menggelar latihan pendidikan dan penyidikan.

“Semua Kasat, Kabag dan Kasi melatih anggotanya agar profesional sesuai bidangnya masing-masing,” tandasnya.(RM1/Difa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.