Agar Koperasi Pangan Berdaya Saing, Teten Adopsi Model Bisnis ini!

  • Whatsapp
Teten siapkan model bisnis koperasi pangan layaknya koorporasi agar memiliki daya saing
Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, di Jakarta, Kamis, menyatakan kementeriannya menyiapkan model bisnis bagi koperasi pangan untuk masuk skala bisnis layaknya koorporasi agar koperasi semakin berdaya saing sekaligus bisa mewujudkan ketahanan pangan nasional.

JAKARTA, REDAKSI24.COMMenteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengaku telah menyiapkan model bisnis bagi koperasi pangan untuk masuk dalam skala bisnis layaknya koorporasi agar koperasi semakin memiliki daya saing sekaligus bisa mewujudkan ketahanan pangan nasional.

“Model bisnis ini diharapkan bisa diadopsi dan direplikasikan oleh koperasi-koperasi pangan di Indonesia,” kata Teten  di Jakarta, Kamis.

Bacaan Lainnya

Kata Teten, tahap pertama model bisnis itu diterapkan di Koperasi Perjuangan Usaha Tani,(KPUT) di Jombang, Jawa Timur, yang merupakan transformasi dari Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Sugihwaras, Jombang, Jatim.

Menurutnya, Presiden Jokowi kerap mengingatkan agar kelembagaan koperasi diperkuat, salah satunya untuk koperasi pangan. Dalam kaitan itu Teten mengapresiasi transformasi Gapoktan menjadi koperasi, meskipun langkah ini dinilainya belum selesai, karena koperasi harus terus berkembang agar mampu menyejahterakan anggotanya.

BACA JUGA:Penanganan COVID-19 Perlu Dibarengi Paket Penyelamatan UMKM

“KPUT  sekarang mengelola 200 hektare lahan dengan 100 anggota, ini sudah cukup luas, walaupun bisa dikembangkan hingga 1000 hektare. Karena untuk membangun kelembagaan usaha koperasi ini agar semakin kuat, idealnya mencapai 1000 hektare,” jelasnya.

Teten mengungkapkan, kementerian yang dipimpinnya menyediakan dana bergulir melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM sebagai sumber pembiayaan bagi model bisnis tersebut dengan maksud agar terdukung dalam pengembangan usaha, modernisasi, dan perluasan usahanya.

“Konsep kami ini korporatisasi, nanti petani menjual produk ke koperasi, koperasi ini kemudian mengolah jadi beras. Lalu urusan ke pasar biarkan koperasi yang menangani, karena umumnya market itu bayarnya mundur sehingga petani tidak mungkin bisa karena keterbatasan modal,”tuturnya..

Dengan model bisnis koorporasi tersebut, koperasi juga akan melindungi petani dari permainan harga yang tidak wajar. Atas hal ini koperasi harus diperkuat pembiayaannya untuk dapat menyerap produksi petani dan membantu pemberian modal petani, serta memperkuat investasi untuk pengembangan RMU (rice milling unit) atau mesin penggilingan padi modern.

Sebagai contoh, lanjut Teten, di Belanda, Selandia Baru, dan Australia koperasi menjadi wadah dalam usaha yang bersifat koorporasi.

Kelebihannya, keuntungan semua usaha tani dinikmati seluruh anggotanya. Selanjutnya koperasi juga harus mengembangkan digitalisasi agar punya daya saing saat masuk skala bisnis ekonomi, tidak kalah dengan korporasi.

“Yang paling bagus itu jika koperasi juga memiliki offtaker dan kredit koperasi dijamin Jamkrida. Dengan begitu, koperasi akan sehat, efisien dan ada offtaker, pasti lembaga pembiayaan berebut menyalurkan dannya,”pungkasnya.(Hani/Ant/Jaya)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.