Ada Warga Sumur Pecung Kota Serang Pilih Mengungsi Daripada Rapid Test

  • Whatsapp
rapid test kota serang
Ketua RW 09 Lingkungan Ciloang, Sumur Pecung, Kota Serang, Maruf mengakui ada warganya yang mengungsi karena takut rapid test.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Virus corona nampaknya sudah menjadi momok menakutkan bagi semua orang. Lantaran itu pula, banyak warga yang menolak untuk menjalani pemeriksaan dini untuk mendeteksi ada tidaknya virus corona di tubuhnya. Deteksi virus corona salah satunya melalui rapid test.

Di Kota Serang, banyak warga takut untuk ikut menjalani rapid test. Bahkan ada juga yang mendeklarasikan penolakan terhadap rapid test. Awalnya warga Kelurahan Masjid Priyayi, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, yang lebih memilih mengungsi dari kampungnya lantaran akan dilakukan rapid test.

Bacaan Lainnya

Setelah itu, muncul aksi deklarasi sejumlah kalangan di Kota Serang yang menyatakan menolak untuk dilakukan rapid test. Meski belakangan akhirnya mereka meminta maaf dan mendukung dilakukannya rapid test.

BACA JUGA: Dianggarkan Rp5 Miliar, Rapid Test di Kota Serang Menuai Banyak Penolakan

Kali ini, penolakan terhadap rapid test covid-19 juga terjadi di Kelurahan Sumur Pecung tepatnya di Lingkungan Ciloang, Kelurahan Sumur Pecung, Kota Serang, Banten. Meski tidak dengan ramai-ramai deklarasi, namun warga secara terbuka menolak dengan cara mengungsi dari kampungnya saat digelarnya rapid test.

Salah satu warga Lingkungan Ciloang, Kelurahan Sumur Pecung, Kota Serang yang enggan disebutkan namanya membenarkan, secara umum warga ketakutan untuk dilakukan rapid test. Mereka berpikiran rapid test sangat mengerikan sehingga lebih memilih untuk menghindarinya.

“Iya pada kabur dari sejak semalam, mereka takut dicolok hidungnya, itu warung juga pada tutup,” katanya kepada wartawan di lokasi rapid test, Kamis (25/6/2020).

BACA JUGA: Sering ke Pasar, Emak-Emak di Sumur Pecung Kota Serang Reaktif Covid-19

Sementara itu, Ketua RW 09 Lingkungan Ciloang, Maruf menyebut, ketakutan warganya terjadi lantaran ada pihak yang memberikan informasi keliru kepada warga terkait rapid test. Pihak-pihak sok tahu itu, kata Maruf, melihat tayangan di media sosial (Medsos) yang mempertontonkan kengerian rapid test.

“Namanya warga awam ditakut-takuti akhirnya ketakutan benaran. Padahal rapid test itu tidak mengerikan seperti yang dibayangkan, Cuma cek darah supaya tidak was-was kena corona,” ungkapnya.

BACA JUGA: Soal Penolakan Rapid Test, FSPP Kota Serang Minta Maaf

Maruf menyebut, setelah diberikan pemahaman terkait rapid test, akhirnya banyak warga yang bersedia mengikutinya. “Akhirnya banyak yang mengerti, ketimbang yang tidak mengerti, hampir 100 yang ikut rapid test,” imbuhnya.

Disinggung warganya yang mengungsi karena takut di rapid test, Maruf menyebut hanya ada sekitar 10 sampai 20 orang. “Kami terus berupaya menyosialisasikan kepada warga bahwa rapid test itu penting demi memutus penyebaran corona,” jelasnya.

Menurut Maruf, di RW 9 terdapat 5 RT dengan jumlah warga sekitar 300 orang. Sedangkan kuota rapid test di lingkungannya sebanyak 100 orang. “Meski tidak semuanya, tapi kata tim medis sudah maksimal. Dari jatah 100, ada 90 orang yang bersedia rapid test 10,” tandasnya.(Adi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.