Ada Hikmah Dibalik Covid-19 Dialami Perawat Pertama Yang Sembuh Dari Virus Ganas Itu

  • Whatsapp
Nurlaili, Perawat di Puskesmas Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel yang merupakan perawat pertama terpapar Covid-19 saat jalani karantina di Rumah Lawan Covid-19.

TANGERANG SELATAN, REDAKSI24.COM – Tenaga medis merupakan garda terdepan dalam penanganan Corona Virus Dieses 2019 atau Covid-19. Sekaligus, menjadi garda terdepan yang paling rentan tertular dan terinfeksi Covid-19.

Di Kota Tangerang Selatan, sudah ada sejumlah tenaga kesehatan di beberapa Puskesmas kecamatan yang terpapar dan menjalani karantina di Rumah Lawan Covid-19 milik Pemkot Tangsel.

Bacaan Lainnya

Salah satunya yakni Nurlaili. Perawat di Puskesmas Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel itu merupakan perawat pertama yang terpapar covid-19 dan penghuni perempuan pertama yang menjalani karantina di Rumah Lawan Covid-19. Nurlaili dinyatakan negatif setelah 15 hari menjalani karantina. 

BACA JUGA: Airin Mengaku Potensi Penularan Covid-19 di Tangsel Masih Tinggi

Selain mendapat perawatan medis, momen karantina tersebut dijadikan fokus beribadah. Shalat, dzikir, dan sholawat intens dilakukan untuk memperkuat mental dan batin. “Alhamdulillah, mungkin itu cara Allah agar kita bisa full beristirahat dan ibadah,” kata Laili mulai bercerita.

Selama menjalani karantina, ada hal menarik yang dialami Laili warga di Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat itu. Seperti kebetulan, setiap Pukul 02.00 WIB dini hari, selalu ada gerombolan burung yang membuatnya bangun karena kicauannya yang berisik.

“Karena memang lokasi RLC merupakan kawasan pertanian terpadu, jadi masih banyak burung dan setiap dini hari pasti ramai seolah membangunkan untuk tahajud. Alhamdulillah, selama karantina, tahajud nggak putus,” tambah Laili.

Berkat ibadah yang intens dilakukan selama karantina, kepercayaan diri untuk menerima kenyataan bahwa dirinya reaktif Covid-19 pun perlahan tumbuh dan menguatkan. “Awal dinyatakan reaktif itu, saya belum percaya karena setiap bekerja kami pakai alat pelindung diri (APD) lengkap. Mulai dari masker, baju hazmat atau jas hujan dan lainnya. Tapi ternyata Allah berkehendak lain, mungkin saat di luar saya lengah dan tertular dari lingkungan lainnya,” ungkap Lili.

BACA JUGA: Penerapan Protokol Kesehatan Covid-19 di Pasar Tradisional Tangsel Sulit Dilakukan

Selain intens beribadah, saat menjalani karantina, Laili diberi konsumsi makanan yang bergizi seperti sayur dan buah-buahan lengkap dengan susu. Pemeriksaan kesehatan pun rutin dilakukan pagi dan sore, berikut dengan aktivitas senam setiap pagi. Asupan tersebut, diakui Laili sangat membantu hingga dirinya pulih dan negatif berdasarkan hasil swab test.

Lili menuturkan, ia mulai menjalani karantina sekira 22 April 2020 lalu dan menjadi penghuni perempuan pertama di RLC. Laili yang berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG) itu mendapatkan hasil reaktif Covid-19 setelah rapid test di tempatnya bekerja. Saat itu, kata dia, dia akan memeriksakan anak keduanya yang berusia lima tahun lantaran demam. 

“Tapi karena hari itu juga jadwal rapid test saya, jadi sekalian. Tapi kaget banget pas hasilnya ternyata reaktif. Akhirnya, suami dan anak saya serta seluruh petugas di Puskesmas juga di rapid test dan alhamdulillah semuanya non-reaktif. Hari itu juga saya langsung dibawa ke RLC dan suami sibuk menyiapkan keperluan bekal selama karantina,” tuturnya.

BACA JUGA: Jumlah Pasien Positif Covid-19 di Tangsel Bertambah Dua Kasus, Satu PDP Meninggal

Karena masih tidak menyangka, dua hari di awal karantina Laili mengaku tak kuasa menahan kesedihannya. Dua hari menangis, lantaran berpisah sementara dengan keluarganya. Dia sedih, lantaran tak bisa tidur bersama anaknya seperti biasanya.

“Tapi alhamdulillah, semua keluarga memberi dukungan baik moril maupun materil. Teman-teman pun banyak yang mendoakan,” katanya seraya bersyukur.

Hal yang berat, lanjut wanita 37 tahun itu, kini berjuang melawan stigma terhadap dirinya yang merupakan penyintas Covid-19. Tetangga sekitar rumahnya pun mulai membatasi hubungannya dan sebagian temannya pun berjaga jarak.

“Tetapi ini menjadi pelajaran buat saya pribadi, tenaga kesehatan lainnya dan terutama masyarakat umum bahwa ancaman Covid-19 itu nyata dan tidak disangka. Jadi jangan anggap remeh, pakai masker saat beraktivitas, jaga jarak dan jaga pola hidup bersih dan sehat,” pungkasnya. (wvyh/Aan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.