7 Nelayan Pandeglang yang Hilang Diprediksi Terseret Arus ke Samudera Hindia

  • Whatsapp
Basarnas Pandeglang
Tim Basarnas masih terus menelusuri perairan Selat Sunda mencari tujuh ABK KM Puspita Jaya yang hilang akibat laka laut.

PANDEGLANG, REDAKSI24.COM – Proses pencarian terhadap 7 Anak Buah Kapal (ABK) KM Puspita Jaya, asal Kecamatan Labuan, Pandeglang, yang mengalami Laka Laut Kamis (18/6/2020) lalu, hingga saat ini belum membuahkan hasil. Basarnas Banten memprediksi mereka sudah terseret gelombang ke Samudera Hindia.

Prediksi tersebut mengingat waktu hilang, kondisi cuaca, serta objek dari lokasi terbaliknya KM Puspita Jaya. Pada hari ke 4, Tim Basarnas Banten, yang dibantu Lanal Banten, Basarnas Jakarta, Polairud Banten, KSOP Banten, ASDP Merak SAR MTA dan PMI Cilegon dan lainnya, mengerahkan 12 kapal penyelamat dengan jumlah personil sebanyak 80 orang, hingga kini masih terus melakukan pencarian.

Bacaan Lainnya

Kepala Basarnas Banten, Zaenal Arifin mengatakan, proses pencarian 7 ABK KM Puspita Jaya yang hilang, terus dilakukan Tim SAR gabungan. Tim yang bergerak dari Labuan ada dari RIB 02 Banten, sejumlah nelayan yang bergerak sejak kemarin, serta tim SAR lainnya yang melakukan penyisiran sekitaran Pulau Panaitan dan Pulau Rakata.

“Ditambah lagi dengan tim dari RIB 02 Lampung, yang bergerak di sekitaran Tanjung Blingbing. Tim dari Lanal Banten, dan Polairud juga melakukan penyisiran di sekitar kejadian laka laut. Namun hingga saat ini belum membuahkan hasil,” ungkap Zaenal Arifin saat ditemui di Posko SAR Basarnas Banten, di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Senin (21/6/2020).

Saat ditanya apakah ada kesulitan atau kendala dalam melakukan proses pecarian terhadap 7 korban tersebut, Zaenal mengaku relatif tidak ada. Saat gelombang di Perairan Selat Sunda mulai relatif tenang.

“Tim masih bisa melalui gelombang di sekitar Selat Sunda. Hanya saja posisi saat ini agak sedikit berkabut, sehingga jarak pandang tim pencarian tertutup kabut,” katanya.

Pihaknya mempredikasi 7 ABK yang sampai sekarang hilang itu sudah terseret arus sampai ke Samudera Hindia. Kondisi itu dipengaruhi objek yang hilang, karena manusia dengan benda berbeda ketika hanyut terbawa gelombang laut.

“Selain itu ukuran besar dan kecilnya objek yang hilang. Karena itu, diprediksi korban sudah sampai ke Samudera Hindia,” ungkapnya.

Namun Zaenal mengaku, pihaknya belum memutuskan untuk melakukan pencarian ke Samudera Hindia. Pihaknya masih fokus pada lokasi sekitar Pulau Panaitan, karena pihaknya masih mengacu pada hasil keterangan para korban yang berhasil diselamatkan.

“Kami sesuaikan alur, tapi yang memungkinkan untuk melakukan pencarian ke Samudera Hindia itu KN SAR Wisnu, kami masih fokus di Selat Sunda. Jika semua pulau ¬†yang menjadi objek pecarian tidak menemukan hasil, maka kami akan mengarahkan pencarian ke Samudera Hindia,” ujarnya.

Sementara itu, dari data Tim SAR Basarnas Banten, ke 7 ABK yang hilang itu diantaranya Jamal (25), Sancan (35), Rasmin (30), Tastirah (50), Suri (50), Boler (30) dan Joni (30). Mereka diketahui nelayan asal Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang.(Samsul Fathoni/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.