62 Anak di Kabupaten Tangerang Positif HIV-AIDS

oleh -

REDAKSI24.COM—Sebanyak 62 anak di wilayah Kabupaten Tangerang positif HIV-AIDS. Jumlah tersebut merupakan data akumulatif Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Tangerang dari tahun 2015 sampai tahun 2019, Selasa (23/07/2019).

Koordinator program Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Tangerang, Hadi Irawan menjelaskan, dari data yang ada di KPA Kabupaten Tangerang ke 62  anak  yang positif HIV-AIDS tersebut tersebar disejumlah tempat di wilayah Kabupaten Tangerang. Namun sesuai etika dan aturan dirinya enggan merinci di wilayah mana saja puluhan anak-anak tersebut tinggal.

Hadi menjelaskan, usia anak-anak yang tertular virus HIV-AIDS tersebut antara 0-13 tahun. Virus ini mereka bawa dari ibunya yang tertular HIV-Aids melalui hubungan seksual dengan pasangan tetapnya (suami).

“Virus HIV ini di dapat dari suami yang menularkan kepada ibu rumah tangga atau istrinya melalui hubungan seksual. Kondisinya bisa tertular atau menurunkan ke anak itu sejak masa kehamilan dan persalinan,” ungkap Hadi saat diwawancarai Redaksi24.Com, Selasa (23/7/2019).

Hadi mengungkapkan, setiap tahunnya para ibu yang terinfeksi HIV positif dari suaminya ini, sudah didorong untuk mengikuti program konseling Mitigasi Dampak melalui program Dinas Sosial. Sedangkan untuk anak-anak yang positi HIV-AIDS, lanjut Hadi, KPA mendorong untuk masuk ke dalam program konseling Mitigasi Dampak Anak.

“Jadi mereka punya kesempatan juga untuk terprotect hak-haknya, terutama hak sehatnya serta hak-hak untuk tidak terstigma dan diskriminasi,” paparnya.

Untuk masalah hak sehat bagi anak yang positif HIV-Aids sendiri, sambung Hadi, saat ini di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang sudah ada dokter anak khusus untuk anak yang terpapar virus HIV-Aids. Bahkan sudah ada obat Anti Retroviral (ARV) dalam bentuk sirup khusus bagi anak dengan HIV-Aids, hanya saja program tersebut dirasa belum maksimal.

“Saya harus akui ini belum maksimal! Karena suport dari nasional Kemenkes membagi obat khusus bagi anak ini ke Dinkes provinsi, kota, kabupaten ini belum berjalan baik, maksudnya belum terus-terusan ada,” ungkap Hadi.

Meski demikian, ia mengaku jika kondisi anak dengan status positif HIV-AIDS di wilayah Kabupaten Tangerang belum ada masalah. Sampai saat ini ia bersama para penggiat HIV-AIDS lainnya belum menemukan adanya stigma dan diskriminasi bagi anak yang hidup dengan virus HIV-AIDS ini.

“Saya, temen-temen di KPA, dan penggiat berharap tidak ada stigma dan diskriminasi terutama untuk mereka menjalankan hak berpendidikan atau sekolah formil,” harapnya.

Ia menambahkan, saat ini masyarakat harus lebih paham ternyata orang yang hidup dengan HIV-Aids (ODHA) bukan hanya kelompok resiko tinggi seperti pengguna napza suntik, waria, Lelaki Seks Lelaki (LSL), dan PSK tetapi juga sudah masuk ke populasi umum yakni ibu dan anak.

“Disinilah penerimaan masyarakat harus lebih dipahami. Apalagi bicara populasi umum itu kita harus serius karena keterkaitannya dengan pertahanan dan ketahanan bangsa,” tutupnya. (Ricky/Hendra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *